Halaqoh Ilmiah VI Divisi LITBANG HMPS Ilmu Hadis: Mewaspadai Hadis Lemah dan Palsu yang Populer

Yogyakarta – Divisi LITBANG Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hadis (HMPS ILHA UAD), telah mengadakan kegiatan Halaqah Ilmiah VI kemarin malam (9/12)  dengan mengusung tema “Bedah Hadis Lemah dan Palsu yang Populer di Masyarakat”. Halaqah Ilmiah yang merupakan salah satu kajian rutin Divisi Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) HMPS Ilmu Hadis ini dilaksanakan sebagai bentuk kesadaran akan pentingnya khazanah dan wawasan keilmuan hadis bagi mahasiswa dalam menghadapi pemahaman keliru hadis lemah dan palsu yang terlanjur menjamur di kalangan masyarakat Indonesia dan kerap mengundang polemik.

Pada kesempatan ini, Divisi LITBANG HMPS ILHA UAD mengundang Ustaz Saprul Matojir (Mahasiswa Ilmu Hadis Angkatan 2018) sebagai narasumbernya. Adapun, kajian ilmiah ini diselenggarakan melalui ruang virtual G. Meet dengan Iffah Ramadhanti Ena sebagai moderator.

Di sela penjelasan substansialnya terhadap hadis lemah dan palsu, Ustaz Saprul Matojir mengutip pemaknaan Ibnu Hibban terhadap hadis ‘ballighuu annii walau āyah‘ yang dimaknai salah karena dipahami setengah-tengah. ‘Sampaikanlah dariku, meskipun hanya satu ayat saja’. Karenanya, muncul kebiasaan orang-orang untuk mendisorientasi makna hadis tanpa melihat kalimat setelahnya, contohnya dalam perintah untuk menyampaikan (mematuhi perintah ballighuu Rasulullah) di atas tanpa menghiraukan kalimat setelahnya, yakni ‘annii atau dariku (dari Nabi SAW) yang secara tidak langsung mendistorsi makna autentikasi tekstual hadis tersebut.

Ustadz Saprul Matojir juga menyampaikan secara ringkas mengenai sejarah munculnya hadis palsu. Hematnya, kemunculan hadis palsu ini terjadi karena berita simpang siur atas wafatnya khalifah Utsman bin Affan r.a. kala itu ,ditambah lagi dengan menyeruaknya gelombang fanatisme kelompok tertentu pasca wafatnya Khalifah. Sehingga, membuat hadis palsu sebagai tameng penguat pendapat untuk dikemukakan (menarik simpatisan) ini jauh lebih penting dan wajar, selain karena tidak mendapati dalil Al-Quran maupun hadis.

Di samping penjelasan tentang 18 hadis palsu populer yang begitu menarik, pembahasan hadis lemah kali ini tak kalah atraktif, para peserta kajian virtual dibekali pengetahuan untuk mengenali ciri-ciri hadis lemah yang secara garis besar nampak berselisih dengan dalil Al-Quran maupun dengan hadis shahih, juga dengan fakta sejarah. Selain itu, hadis palsu juga dianggap bertentangan dengan ushul akidah Islam dan berseberangan dengan akal sehat.

Di penghujung kajian ilmiah ini, nampak antusiasme peserta dalam bertanya dan berdiskusi. Setelah sesi tanya jawab berakhir, moderator menutup acara dengan khidmat dan mengucap hamdalah bersama-sama.

 

Reporter dan Editor: Salma Amatulloh

Penyunting: Ahmad Amiruddin Priyatmaja